Minggu, 21 Februari 2010

Pertanyaan Gadis Cantik untuk di jawab Pria Kaya

Surat dari cewek cantik yang ingin mendapatkan pria kaya yang dimuat di suatu majalah. Suratnya ditanggapi oleh seorang pria kaya dengan serius. Bagus kata-katanya dan jangan lupa lihat nama pria yang membalas suratnya.
Seorang gadis muda dan cantik, mengirimkan surat ke sebuah majalah terkenal, dengan judul:

"Apa yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?"

Saya akan jujur, tentang apa yang akan coba saya katakan di sini. tahun ini saya berumur 25 tahun.
Saya sangat cantik, mempunyai selera yang bagus akan fashion. saya ingin
menikahi seorang pria dengan penghasilan minimal $500ribu/tahun. anda mungkin berpikir saya matre, tapi penghasilan $1juta/tahun hanya
dianggap sebagai kelas menengah di New York. persyaratan saya tidak
tinggi. apakah ada di forum ini mempunyai penghasilan $500ribu/tahun?
apa kalian semua sudah menikah? yang saya ingin tanyakan: apa yang
harus saya lakukan untuk menikahi orang kaya seperti anda? yang terkaya
pernah berkencan dengan saya hanya $250rb/tahun. bila seseorang ingin
pindah ke area pemukiman elit di City Garden New York, penghasilan $
250rb/tahun tidaklah cukup. Dengan kerendahan hati, saya ingin menanyakan: "Dimana para lajang2 kaya hang out?"
"Kisaran umur berapa yang harus saya cari?"
"Kenapa kebanyakan istri dari orang2 kaya hanya berpenampilan standar?"

Saya pernah bertemu dengan beberapa wanita yang memiliki penampilan tidak menarik, tapi mereka bisa menikahi pria kaya? Bagaimana, anda memutuskan, siapa yang bisa menjadi istrimu, dan siapa yang hanya bisa menjadi pacar?


ttd.
Si Cantik
------------ --------- --

Inilah balasan dari seorang pria yang bekerja di Finansial Wall Street:

Halo, saya telah membaca suratmu dengan penuh semangat. Saya rasa banyak gadis2 di luar sana yang mempunyai pertanyaan yang sama. Ijinkan saya untuk menganalisa situasi mu sebagai seorang profesional.
pendapatan tahunan saya lebih dari $500rb, sesuai syaratmu, jadi saya harap semuanya tidak berpikir saya main2 di sini.
Dari sisi seorang bisnis, merupakan keputusan salah untuk menikahimu. jawabannya mudah saja, saya coba jelaskan, coba tempatkan "kecantikan" dan "uang" bersisian, dimana anda mencoba menukar kecantikan dengan uang: Pihak A menyediakan kecantikan, dan Pihak B membayar untuk itu, hal yg masuk akal. tapi ada masalah disini. Kecantikan anda akan menghilang, tapi uang saya tidak akan hilang tanpa ada alasan yang bagus. Faktanya, pendapatan saya mungkin akan meningkat dari tahun ke tahun, tapi anda tidak akan bertambah cantik tahun demi tahun.
Karena itu, dari sudut pandang ekonomi, saya adalah aset yang akan
meningkat, dan anda adalah aset yang akan menyusut. bukan hanya
penyusutan normal, tapi penyusutan eksponensial.
Dan ika hanya (kecantikan) itu aset anda, nilai anda akan sangat mengkhawatirkan 10 tahun mendatang. Dari aturan yg kita gunakan di Wall Street, setiap pertukaran memiliki posisi, kencan dengan anda juga merupakan posisi tukar. jika nilai tukar turun, kita akan menjualnya dan adalah ide buruk untuk menyimpan dalam jangka lama, seperti pernikahan yang anda inginkan. mungkin terdengar kasar, tapi untuk membuat keputusan bijaksana, setiap aset dengan nilai depresiasi besar akan di jual atau "disewakan." siapa saja dengan penghasilan tahunan $500rb, bukan orang bodoh, kami hanya berkencan dengan anda, tapi tidak akan menikahi anda.
Saya akan menyarankan agar anda lupakan saja untuk mencari cara menikahi orang kaya. lebih baik anda menjadikan diri anda orang kaya dengan pendapatan $500rb/tahun. Ini kesempatan lebih bagus daripada mencari orang kaya bodoh. Mudah2an balasan ini dapat membantu. Jika anda tertarik untuk servis "sewa pinjam," hubungi saya.

ttd,
J.P. Morgan

Minggu, 07 Februari 2010

Dokter Lo Siaw Ging


Laporan wartawan KOMPAS Sonya Helen Sinombor

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.

Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Namun, bagi Lo, semua itu dihadapinya dengan ”biasa saja”. Dia merasa dapat memahami kondisi sebagian pasiennya itu. Seorang pasiennya bercerita, karena terlalu sering berobat ke dokter Lo dan tak membayar, ia merasa tidak enak hati. Dia lalu bertanya berapa biaya pemeriksaan dan resep obatnya.

Mendengar pertanyaan si pasien, Lo malah balik bertanya, ”Memangnya kamu sudah punya uang banyak?”


Pasiennya yang lain, Yuli (30), warga Cemani, Sukoharjo, bercerita, dia juga tak pernah membayar saat memeriksakan diri. ”Saya pernah ngasih uang kepada Pak Dokter, tetapi enggak diterima,” ucapnya.

Kardiman (45), penjual bakso di samping rumah dokter Lo, mengatakan, para tetangga dan mereka yang tinggal di sekitar rumah dokter itu juga tak pernah diminta bayaran. ”Kami hanya bisa bilang terima kasih dokter, lalu ke luar ruang periksa,” katanya.


Cara kerja Lo itu membuat dia setiap bulan justru harus membayar tagihan dari apotek atas resep-resep yang diambil para pasiennya. Ini tak terhindarkan karena ada saja pasien yang benar-benar tak punya uang untuk menebus obat atau karena penyakitnya memerlukan obat segera, padahal si pasien tak membawa cukup uang.

Dalam kondisi seperti itu, biasanya setelah memeriksa dan menuliskan resep untuk sang pasien, Lo langsung meminta pasien dan keluarganya menebus obat ke apotek yang memang telah menjadi langganannya. Pasien atau keluarganya cukup membawa resep yang telah ditandatangani Lo, petugas di apotek akan memberikan obat yang diperlukan.

Pada setiap akhir bulan, barulah pihak apotek menagih harga obat tersebut kepada Lo. Berapa besar tagihannya? ”Bervariasi, dari ratusan ribu sampai Rp 10 juta per bulan.

Bahkan, pasien tak mampu yang menderita sakit parah pun tanpa ragu dikirim Lo ke Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo. Dengan mengantongi surat dari dokter Lo, pasien biasanya diterima pihak rumah sakit, yang lalu membebankan biaya perawatan kepada Lo.

Kerusuhan 1998

Nama dokter Lo sebagai rujukan, terutama bagi kalangan warga tak mampu, relatif ”populer”. Namun, mantan Direktur RS Kasih Ibu ini justru tak suka pada publikasi. Beberapa kali dia menolak permintaan wawancara dari media.

Enggak usahlah diberita-beritakan. Saya bukan siapa-siapa,” ujarnya.

Bagi Lo, apa yang dia lakukan selama ini sekadar membantu mereka yang tak mampu dan membutuhkan pertolongan dokter. ”Apa yang saya lakukan itu biasa dilakukan orang lain juga. Jadi, tak ada yang istimewa,” ujarnya.

Di kalangan warga Solo, terutama di sekitar tempat tinggalnya, Lo dikenal sebagai sosok yang selalu bersedia menolong siapa pun yang membutuhkan. Tak heran jika saat terjadi kerusuhan rasial di Solo pada Mei 1998, rumah dokter keturunan Tionghoa ini justru dijaga ketat oleh masyarakat setempat.

Lo juga tak merasa khawatir. Justru para tetangga yang meminta dia tidak membuka praktik pada masa kerusuhan itu mengingat situasinya rawan, terutama bagi warga keturunan Tionghoa. Namun, Lo menolak permintaan itu, dia tetap menerima pasien yang datang.

Saya mengingatkan dokter, kenapa buka praktik. Wong suasananya kritis. Eh, saya yang malah dimarahi dokter. Katanya, dokter akan tetap buka praktik, kasihan sama orang yang sudah datang jauh-jauh mau berobat,” cerita Putut Hari Purwanto (46), warga Purwodiningratan, yang rumahnya tak jauh dari rumah Lo.

Bahkan, meski tentara datang ke rumah Lo untuk mengevakuasi dia ke tempat yang aman, Lo tetap menolak. Maka, wargalah yang kemudian berjaga-jaga di rumah Lo agar dia tak menjadi sasaran kerusuhan.

”Saya ini orang Solo, jadi tak perlu pergi ke mana-mana. Buat apa?” ucapnya.

Anugerah

Menjadi dokter, bagi Lo, adalah sebuah anugerah. Dia kemudian bercerita, seorang dokter di Solo yang dikenal dengan nama dokter Oen, seniornya, dan sang ayahlah yang membentuk sosoknya. Dokter Oen dan sang ayah kini telah tiada.

Lo selalu ingat pesan ayahnya saat memutuskan belajar di sekolah kedokteran. ”Ayah saya berkali-kali mengatakan, kalau saya mau jadi dokter, ya jangan dagang. Kalau mau dagang, jangan jadi dokter. Makanya, siapa pun orang yang datang ke sini, miskin atau kaya, saya harus terbuka. Saya tidak pasang tarif,” kata Lo yang namanya masuk dalam buku Kitab Solo itu.

Papan praktik dokter pun selama bertahun-tahun tak pernah dia pasang. Kalau belakangan ini dia memasang papan nama praktik dokternya, itu karena harus memenuhi peraturan pemerintah.

Tentang peran dokter Oen dalam dirinya, Lo bercerita, selama sekitar 15 tahun dia bekerja kepada dokter Oen yang dia jadikan sebagai panutan. ”Dokter Oen itu jiwa sosialnya tinggi dan kehidupan sehari-harinya sederhana,” ujarnya.

Dari kedua orang itulah, Lo belajar bahwa kebahagiaan justru muncul saat kita bisa berbuat sesuatu bagi sesama. ”Ini bukan berarti saya tak menerima bayaran dari pasien, tetapi kepuasan bisa membantu sesama yang tidak bisa dibayar dengan uang,” katanya sambil bercerita, sebagian pasien yang datang dari desa suka membawakan pisang untuknya.

Gaya hidup sederhana membuat Lo merasa pendapatan sebagai dokter bisa lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari. Apalagi, dia dan sang istri, Maria Gan May Kwee atau Maria Gandi, yang dinikahinya tahun 1968, tak memiliki anak.

Kebutuhan kami hanya makan. Lagi pula orang seumur saya, seberapa banyak sih makannya?” ujar Lo.

Bahkan, di mata para pasien, Lo seakan tak pernah ”cuti” praktik. Lies (55), ibu dua anak, warga Kepatihan Kulon, Solo, yang selama puluhan tahun menjadi pasiennya mengatakan, ”Dokter Lo praktik pagi dan malam. Setiap kali saya datang tak pernah tutup. Sepertinya, dokter Lo selalu ada kapan pun kami memerlukan.”

DATA DIRI

• Nama: Lo Siaw Ging • Lahir: Magelang, 16 Agustus 1934 • Istri: Maria Gan May Kwee (62) • Pendidikan: - Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, 1962 - S-2 (MARS) Universitas Indonesia, 1995 • Profesi: - Dokter RS Panti Kosala, Kandang Sapi, Solo (sekarang RS dokter Oen, Solo) - Mantan Direktur Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo

http://kesehatan.kompas..com/read/xm...sudi.berdagang

Selasa, 02 Februari 2010

The First Family



Bertahun-tahun jauh sebelum masa narkoba menjadi tren kejahatan, sebelum pembantaian St Valentine dan sebelum masa film-film mafia Robert De Niro, lahirlah mafia pertama di dunia. Dan Godfather pertama di dunia ini dianggap sebagai yang paling brutal sepanjang masa...

Seorang pria Sisilia yang gelisah sedang duduk sendirian di meja sambil memakan kentang rebus di keremangan sebuah ruangan restoran spagheti di kawasan Little New York.
Penerangan yang ada hanya bersumber dari beberapa lampu gas dan pada jam 3 dini hari hanya ada sedikit pelanggan.Kemudian pintu depan terbuka. Seorang pria tinggi besar yang disebut "The Ox" memasuki ruangan dan di belakangnya berdiri seorang pria kurus berkumis berantakan yang mengenakan sehelai syal untuk menutupi tangan kanannya yang pendek.
Tak ada yang menengok ke arah mereka kecuali Benedetto Madonia,si pria gugup yang mengenali keduanya.

Dengan gerakan yang cepat si pria kurus itu memerintahkan dua pria yang duduk di dekat Madonia untuk memeganginnya.
Ia melawan namun mereka menyeretnya sepanjang ruangan dan membawanya ke arah wastafel besi yang berkarat. Salah seorang dari mereka menarik rambut pria itu sampai kepalanya mendongak dan memperlihatkan leher depannya. Pria lainnya menghunjamkan sebilah pisau yang sangat tajam dan mengiris leher Madonia tepat diatas jakunnya.

Tubuhnya langsung melunglai ketika mereka memeganginya dan mengarahkan muncratan darahnya ke arah wastafel. Diperlukan waktu 1 menit sebelum pancuran darahnya berhenti. Mereka menggunakan lap untuk menahan tetesan darah terakhir. Sebuah tong dibawa masuk dan mereka memasukkan mayat Madonia ke dalamnya - namun satu tangan dan kakinya menjulur keluar. Beberapa orang lain kemudian membawa tong itu dengan kereta kuda ke perkampungan lain dan membuangnya di jalanan. Hari itu adalah tanggal 14 April 1903. Madonia merupakan korban dari pria bertangan pendek yang dikenal dengan sebutan "The Clutch Hand" alias si Tangan Mencengkram - kondisi yang diakibatkan cacat genetis yang menyebabkan tangannya tidak dilengkapi beberapa jari dan tanpa jempol. Namun pria ini sangat pintar sekaligus kejam. Dialah pendiri kelompok mafia di New York. Namanya Giuseppe Morello asal Corleone.



The artichoke king




Ketika Morello tiba di Amerika Serikat, belum ada yang namanya mafia. Organisasi ini berawal di Sisilia, terbentuk di masa terjadinya gejolak pada tahun 1860-an ketika kekuasaan para tuan tanah feodal mulai jatuh. Para geng kriminal baru mencari uang dengan cara mencuri ternak dan merampok, namun juga memelopori aksi pemerasan berdalih uang keamanan dan mengorganisir diri mereka menjadi sekumpulan "family" atau keluarga dari para bos dan anak buah yang suka mengumpulkan uang. Mereka semua harus mematuhi sebuah aturan yang disebut omertá atau kode tutup mulut.

Si Tangan Cengkram dilahirkan di Corleone,surga kejahatan yang bersaing dengan Palermo,Ibukota Sisilia.Ayah tiri Morello dan pamannya adalah anggota keluarga Corleone dan Morello pun akhirnya bergabung pula. Ia adalah pelaksana lapangan yang handal dan pada tahun 1882 ia sudah menjadi pimpinan dunia kejahatan yang mengelola uang palsu. Akan tetapi kesuksesannya menarik perhatian polisi. Morello pun diadilu secara "in absentia" dan dijatuhi vonis 6 tahun penjara,maka ia berpikir inilah saatnya untuk kabur ke Amerika dan mencari keuntungan di sana.

Didorong kemiskinan,sekitar 2 juta imigran meninggalkan Italia menuju Amerika pada akhir abad ke-19. Ketika Morello tiba di perkampungan Italia yang kumuh di New York, ia memutuskan disinilah ia akan beroperasi.
Memang benar bahwa di kawasan Little Italy kemiskinan begitu marak sehingga munculnya organisasi kejahatan adalah suatu hal yang tidak bisa dihindari. Namun sebelum si Tangan Cengkeram tiba, para kriminal Italia disana adalah amatir. Sebaliknya, Morello adalah professional.

Tahun 1900 ia mulai membangun sebuah "keluarga' membuat kelompok pemeras yang kemudia menjadi "trade mark" kegiatan mafia selanjutnya. Mereka mengambil keuntungan dari bisnis batubara yang dipakai untuk menghangatkan warga New York di musim dingin dan juga dari es batu di musim panas. Selain itu mereka juga mengutip keuntungan dari usaha Laundry - bisnis yang disebut 'pajak cucian basah'. Akan tetapi bisnis yang paling menguntungkan bagi mereka adalah dari pasar sayuran, terutama dari penjualan sejenis sayuran yang disebut Artichoke. Bahan ini sangat penting bagi para istri pria Italia untuk membuat sup Minestrone. Maka para mafia Italia ini membuat 'pos' pencegatan terhadap kendaraan pengangkut suplai sayuran ini ke New York dan para pedagang harus membayar 25 dolar untuk setiap kendaraan pembawa Artichoke. Kalau tidak,mereka akan mendinamit gudang penyimpanan sayuran dan juga para pemiliknya akan ditembak. Tahun 1919 keluarga Morello memperoleh penghasilan lebih dari 50 ribu dolar pertahun dari 'usaha' sayuran ini saja.


Me-manage orang


Kunci dari keberhasilan keluarga Morello terletak pada kepemimpinan dan disiplin. Morello sendiri tidak tertandingi sebagai kepala geng, perintah- perintahnya senantiasa dipatuhi tanpa dipertanyakan. Kekuatan utamanya terletak pada ketidak-ragu-raguannya untuk menghabisi lawan dan pesaingnya. Selama bertahun-tahun polisi New York disibukan oleh serangkaian kasus pembunuhan yang dihubungkan ke Morello. Polisi memperkirakan, pembunuhan yang dilakukan Morello diawali dari korban bernama Meyer Beisbard, seorang pedagang perhiasan yang mayatnya ditemukan didalam peti di pelabuhan New York pada Januari 1901. Seluruh giginya copot dan tenggorokannya digorok. Tampaknya ia dihabisi karena ulahnya yang berlebihan ketika menagih pembayaran dari para pelanggannya yang beretnik Italia. Sebanyak 300 dolar uang ditemukan didalam peti yang berkubang darah bersamanya.

Sebuah bentuk peringatan lagi muncul ketika Si Tangan Cengkram mendengar kabar bahwa seorang anggota mafia kelas cecunguk bernama Giuseppe Catania suka mengoceh ketika mabuk. Beberapa hari kemudian 4 anak kecil yang sedang berenang di sungai East menemukan sebuah karung kentang teronggok di tepi sungai. Ketika karung dibuka, tampaklah mayat Catania dalam keadaan bugil dengan tenggorokan terbuka dan kepalanya nyaris copot.

Pebunuhan - pembunuhan tersebut dilakukan oleh para bos kelas atasa yang memerintahkan para bawahannya. Perintah-perintah itu diturunkan oleh para bos kepada anggota geng kelas rendah yang membuat perencanaan,melaksanakan pembunuhan dan menanggung resikonya. Pada akhirnya operasi ini menjadi besar sehingga Morello terpaksa menyewa tenaga orang Sisilia yang tidak berasal dari Corleone namun harus tetap mempunyai sifat keji. Para penjahat kelas teri ini dibayar sekitar 10 dollar per minggunya dan tugas mereka pada umumnya adalah melaksanakan tugas gangster seperti mengelola perjudian kartu dan tempat-tempat perjudian lainnya sampai ke pemerasa.

Polisi New York (yang 3/4 anggotanya beretnis Irlandia) tidak bisa membongkar kasus kejahatan di kawasan Little Italy. Mereka tidak bisa menyelidiki apa yang terjadi di kawasan kumuh Manhattan dan seringkali harus berhadapan dengan para saksi kejahatan dan tersangka yang tidak bisa berbahasa inggris dan tidak ingin melibatkan polisi.

Para detektif merasa hampir tidak mungkin untuk membongkar suatu kasus ( meskipun identitas si pembunuh ataupun motif pembunuhan itu sudah diketahui secara umum oleh masyarakat).

Akan tetapi pembunuhan Madonia telah membuat polisi bertekad menghentikan sikap diam mereka. Sebuah tong berisi mayat yang dibuang di trotoar menjadi skandal besar di New York dan polisi tidak bisa lagi mentolerir.
Untuk mengatasi hambatan kultural,polisi membentuk divisi khusus Italia yang dikepalai oleh detektif Joe Petrosino.

Petrosino adalah seorang pria bertubuh besar yang mengandalkan otot dan juga otaknya. Seorang anggota dewan kota Brooklyn pernah mengatakan bahwa Petrosino merontokkan gigi orang lebih banyak daripada dokter gigi. Namun ia juga pria tegas ,berhati-hati,dan penuh pertimbangan dan sering berhasil dalam tugasnya. Hasil yang ia dapat adalah berkat kerja keras,pengalaman solid dan juga upaya penyamaran. Akan tetapi Morello menjadi kasus yang sangat berat baginya. Suatu kali nyaris saja Petrosino berhasil menyeretnya ke penjara namun saksi yang sudah diperolehnya tiba-tiba mengundurkan diri sehingga melengganglah Morello.

Karena merasa tidak mungkin mengadili Morello di Amerika mengingat teror yang diterima para saksi, Petrosino mengambil taktik lain. Ia memperkirakan sekita 5000 orang Italia pelaku aksi kriminal di New York akan dideportasi dan Morello merupalan orang nomor satu dalam daftarnya. Tahun 1909 ia pergi ke Sisilia secara diam-diam karena ia tahu nyawanya terancam. Di sana ia bertugas mengumpulkan dokumen-dokumen legal dan membangun jaringan informan. Namun sayangnya, tanpa sepengetahuan Petrosino, koran setempat memberitakan perjalanannya tersebut. Pada suatu malam, setelah makan malam berupa keju dan menghabiskan setengah liter wine, ia berjalan pulang ke hotelnya. Baru saja ia berjalan sejauh 300 meter menyebrangi lapangan, ia ditembak di bahu,pipi dan tenggorokannya. Sampai sekarang, ia menjadi satu-satunya polisi Amerika yang tewas dibunuh di luar negri ketika bertugas.


Runtuhnya kerajaan



Di New York, Morello telah berinvestasi dalam bisnis legal. Tahun 1903 ia membuka sebuah restoran spaghetti ( tempat Madonia dibunuh ), memiliki sebuah barbershop,satu toko sepatu, toko sayuran dan buah-buahan serta dua buah rumah yang ia sewakan. Saat itu industri pembangunan sedang marak. Seluruh apartment imigran yang ada, bahkan seluruh bisnis ilegal Morello pun tak bisa menghasilkan keuntungan sebesar industri tersebut. Untuk meningkatkan keuntungan, Morello membentuk suatu asosiasi yang dinamakan Ignatz Florio Co-operative Association Among Corleonesi, dengan mengambil nama tokoh pengusaha perkapalan terkemuka asal Sisilia ( yang tidak tahu namanya dicatut ), untuk kemudian menjual saham di Little Italy, memanfaatkan kepercayaan antar masyarakat atas nama besar tersebut.

Tahun 1906 perusahaan ini memiliki beberapa apartemen di seluruh New York, dimana Morello memperoleh pinjaman sebanyak ratusan ribu dollar melalui hipotek dan membujuk investor dari keluarga mafia di Amerika lainnya. Inilah kesalahan yang berbahaya. Tahun 1907 sebuah lembaga keuangan mencoba menguasai pasar tembaga dan depresi pun melanda negeri tersebut. Perusaahaan-perusahaan besar mulai goyah dan nilai saham jatuh dan lembaga-lembaga keuangan rontok satu per satu. Dunia memasuki masa resesi global untuk pertama kalinya.

Diakhir 1907 masa tersulit sudah berlalu,akan tetapi komunitas imigran di New York masih terkena dampak secara parah. Sebanyak 25 bank di kawasan Little Italy bangkrut dan sebanyak 12 ribu nasabahnya kehilangan uang mereka. Harga rumah dan tanah juga jatuh dan beberapa usaha Morello tak bisa menghindar dari kerugian besar. Ignatz Florio Co-operative Association mengalami kesulitan. Para supplier mengajukan gugatan hukum untuk menutupi kerugian dan para pemegang saham kecil menyadari bahwa mereka tak akan mendapatkan uang mereka kembali. Para anggota keluarga mafia lainnya menagih uang mereka. Nyawa Morello dalam bahaya kalau ia tidak membayar mereka. Maka pada bulan Oktober 1908 keluarga ini kembali menjalankan kegiatan pembuatan uang palsu.
Sebuah keputusan yang berakibat fatal. Kejahatan merupakan masalah yang dihadapi pihak Kepolisian New York, namun khusus kasus upal merupakan wewenang pihak Dinas Rahasia AS yang memiliki dana kuat khusus untuk memberantas kejahatan tersebut. William Flynn,orang Irlandia cemerlang yang mengepalai biro New York telah menjadikaan Morello sebagai sasarannya sejak kasus ditemukannya mayat dalam tong dan mulai membangun kasus melawannya.
Tidak seperti Petrosino, Flynn adalah orang yang sabar dan ia secara perlahan-lahan mengumpulkan data yang sulit untuk melawan Morello. Ia juga merekrut informan dari kalangan mafia sendiri. Ketika petugas Dinas Rahasia menggerebek markas Morello pada bulan November 1909, ditemukan cukup bukti untuk memenjarakan para anggota keluarga selama bertahun-tahun. Pada saerangkaian proses persidangan di tahun 1910, Flynn mengajukan tuntutan kepada 45 anggota keluarga dan meyakinkan para juri agar memberikan mereka hukuman terberat yang pernah diberikan sepanjang sejarah pengadilan federal. Morello akhirnya divonis 25 tahun.

Sementara itu,kegiatan mafia terus berlanjut dan kekuasaan kini beralih ke keluarga lainnya,termasuk Neapolitan Camorra,sindikat kejahatan di Italia. Di dalam penjara Morello menderita penyakit. Seorang reporter memberitakan bahwa vonis penjara yang diberikan didalam persidangan bagaikan tembakan bagi Morello. Boss mafia paling ditakuti di New York begitu menderita di penjara dan ketika ia mulai pulih, ia pun mengajukan permohonan pengampunan. Ketika ia dipindahkan ke penjara di Atlanta, ia tidak merasa lebih baik. Jangka waktu hukuman yang dikenakan kepadanya membuatnya patah semangat dan ia pernah mengatakn kepada istrinya bahwa hal itu telah membuatnya jadi gila. Penduduk kawasan Little Italy dipaksa untuk menyumbang bagi upaya naik banding, namun upaya itu mengalami kegagalan. Morello bahkan akhirnya melanggar ómertà, dengan menulis pengakuan kepada FBI meski ia menolak untuk menandatanganinya.


Akhir kisah



Morello diampuni pada bulan Februari 1920 dan ketika ia keluar penjara, New York sudah berubah sama sekali. Kota itu begitu ramai, mobil berseliweran di jalanan dan kini terdapat empat keluarga mafia disana. Banyak dari rekan-rekannya yang sudah tewas akibat konflik perebutan kekuasaan. Morello tahu bahwa ia tidak bisa lagi membangun keluarganya, maka ia pun menjadi consigliere atau tangan kanan dari bos baru, Joe Masseria alias "Joe The Boss". Tak lama kemudian pasar mafia yang semakin sempit memunculkan perang internal keluarga dan Morello menjadi sasaran utama.
Tanggal 15 Agustus 1930, pada pukul 3.45 sore atau dua setengah bulan sejak pertama kali pistol diletuskan sebagai awal perang mafia,dua orang pembunuh bayaran yang bersenjataakan Revolver berkendara ke kantor Morello di Italian Harlem. Kantornya terletak di lantai 2 dari bangunan berlantai 4 di Jalan East 116, hanya berbeda beberapa pintu dari kantor pusat Ignatz Florio Co-operative Association.
Di gedung tidak ada seorang pun penjaga. Para pembunuh menaiki tangga dan naik menuju kantor tanpa ada yang melihat ataupun menghentikan. Mereka mengetuk pintu. Morello, yang saat itu sedang bersama paman dan seorang rekannya membukakan pintu dan para pembunuh itu langsung menembakkan pistol. Satu orang pria terluka akibat terlempar jendela dan jatuh di trotoar. Paman Morello pun tewas bersimbah darah. Morello sendiri mencoba lari namun peluru pun akhirnya bersarang di kepala, jantung, dan paru-parunya. Bos dari segala bos akhirnya tewas. Akan tetapi,"warisan" dari kejahatannya tidak pernah hilang dari kota New York. Pada tahun 1991, seorang anggota mafia menyadari bahwa para bosnya berencana menghabisinya, maka ia mengadu ke FBI dan berupaya menghindari hukuman dengan cara membocorkan segala aksi kejahatan yang ia ketahui. Mulai dari pemerasan berdalih perlindungan,pekerjaan konstruksi dan pembunuhan. Menurut si mafia pengadu itu, mafia hingga saat itu masih mengutip keuntungan dari setiap sayur artichoke yang dijual di kawasan tersebut.